Dini hari ini aku bener-bener kaget membaca smsmu.Sms yang syarat dengan tuduhan dan fitnah.Namun meski demikian aku tetap tersenyum.Entah apa yang mendasarimu, sehingga kau begitu rupa berkata demikian.
Sungguh sangat disayangkan, tanpa menganalisa terlebih dahulu, tanpa melakukan tabbayun, kau langsung menghardik ba bi bu,.seperti senapan mesih yang dengan gegap gempita menembakkan peluru kearah musuhnya,.
Itulah gayamu, yang selama ini kukenal. Dan akupun lunglai tanpa daya menghadapi tuduhannmu.Dikala kepalaku pusing tujuh keliling dengan beberapa tugas yang belum selesai, dan sakitku yang tak kunjung sembuh. Sehingga isi kepala yang padamulanya penuh inspirasi untuk menulis, tiba-tiba blank.
Kuberdiri menghadap jendela, kusaksikan lalu lalang manusia dari atas jendela hotelku.Sambil menghela nafas, kebalas smsmu, meski sebenarnya itu tak perlu.Kumencoba menjelaskan dengan dilandasi kejujuran. Dan akupun mencoba tak peduli dengan balasan smsmu lagi.
Dengan malas kumencoba tiduran diatas ranjang.Kuingin menyelesaikan kembali kerjaan dan tugas yang sempat terhenti beberapa menit.Namun ternyata pikiranku tak bisa.Aku benar2x masih blank.
Ah kau bener2 membuatku pikiran.Kucoba tutup laptopku dan membuang semua kertas yang berada di diranjangku.Entah mengapa aku bener2 jengkel malam ini.Kejadian yang menimpaku hari ini,mencapai puncakknya ketika kau sms dengan nada menuduh.
Aku ambil bantal dan guling yang ada disampingku.Aku berusaha untuk tidur dan terlelap.Aku tidak pedulikan lagi novel itu.Kutakpedulikan lahgi tulisan2 yang ingin kubuat.Yang jelas, mala ini, aku ingin segera tidur, melupakan semua yang terjadi hari ini, walau hanya sejenak
Jakarta, 30 Desember 2011
Sabtu, 31 Desember 2011
Kamis, 29 Desember 2011
KETIKA CINTA DIKHIANATI
Artikel ini saya tulis untuk menjawab pertanyaan dari pembaca yang intinya bagaimana sikap kita ketika kita sudah memiliki cinta yang murni kepada seseorang, namun justru balasan cinta itu hanya sebuah pengkhianatan.
Sebenarnya masih banyak pertanyaan lain yang sering masuk, namun karena keterbatasan waktu maka mohon maaf belum bisa saya ulas semuanya. Ternyata membahas masalah “cinta” tidak akan pernah ada habisnya, namun berikut akan saya coba menjawab pertanyaan di atas sebisanya sebatas pengetahuan saya yang sangat terbatas.
***
Mencintai adalah pekerjaan yang mulia, karena cinta cenderung melahirkan sifat kasih sayang kepada apa yang kita cinta. Sedangkan sifat “pengasih” dan “penyayang” itu sendiri adalah salah satu sifat Allah SWT, yakni “Ar Rahman” dan “Ar Rahiim”.
Mencintai akan membuat kita melakukan segala sesuatu yang membuat seseorang yang kita cintai merasa senang dan bahagia. Kita rela bersusah payah demi membahagiakan yang kita cinta. Kita rela berkorban waktu, tenaga, pikiran, dan biaya demi mendapatkan dan memelihara cinta seseorang yang kita cintai tersebut. Pendek kata, demi cinta, katanya mati pun rela. Dari sini, Anda pasti tahu bahwa subyek perasaan cinta pada pembahasan kita ini adalah subyek yang hidup, bukan benda mati atau sebuah status belaka.
Ketika kita mendengar kata “cinta” maka seringnya asosiasi kata itu ialah cinta kepada lawan jenis. Cinta kepada pacar atau kekasih, suami atau istri, meskipun sebenarnya obyek cinta itu sangat luas. Untuk kali ini mungkin kita tekankan pada emosi cinta pada kekasih atau orang yang special di hati kita.
Membahas masalah cinta akan sangat panjang dan penuh perdebatan, karena arti “cinta” bagi setiap orang mungkin berbeda-beda. Namun kali ini yang akan kita kupas mungkin sering terjadi, atau mungkin kita sendiri juga pernah mengalaminya. Apa itu? Tidak lain adalah sebuah episode dari true love story perjalanan cinta kita mencari pasangan hidup. Kalau dibuat film (yang kemungkinan besar bisa box office), judulnya adalah “Menghadapi Pengkhianatan Cinta” atau “My Love, Kenapa Kau Tinggalkan Daku…?”.
Ketika kita sedang sepenuh hati mencintai seseorang, kemudian cinta kita berbalas cinta; tidak ditolak mentah-mentah. Dan si dia juga dari mulutnya sudah berkata bahwa perasaannya juga sama. Oh, indahnya dunia ini. Dua cinta berpadu, aneka bunga pun mekar di hati sepasang insan yang sedang kasmaran. Kasmaran: sejauh mana kau kejar cinta? Bila diteropong dengan kacamata empat dimensi maka akan terlihat di atas kepala mereka berdua beterbangan daun waru merah hati yang berkelap-kelip dan berputar-putar. Ada teman saya yang cintanya baru diterima maka hitam-hitam (pupil) di matanya tiba-tiba berubah menjadi warna pink dan bentuknya menyerupai hati (yang ini hanya fiktif belaka…).
Ceritanya sekarang adalah ternyata seseorang (kekasih) yang sangat kita cintai tersebut tiba-tiba berkhianat (menduakan cinta kita, selingkuh, tidak setia). Tentu yang terjadi adalah broken heart; hati kita pun hancur berkeping-keping!
“Dia memang brengsek, bro! Padahal aku ini orang paling setia di dunia…”, demikian sumpah serapah seorang kawan yang lagi patah hati.
Menurut seorang teman saya yang tinggal di pulau Sumatera, dia berpendapat bahwa seorang “pengkhianat cinta”, berarti dia tidak tahu makna sebenarnya tentang cinta itu sendiri. Dia tidak ingin berkomitmen dan tidak ingin terikat dengan cinta yang dia pegang, karena ingin mendapatkan keuntungan dari cinta yang dia tebar (ke orang lain, ed). Dia tidak teguh pendirian dan tidak bisa melihat orang yang lebih cakep atau lebih kaya dari pasangannya.
Sementara itu, teman lain dari Surabaya memiliki pendapat yang agak berbeda sebagai berikut. “Pengkhianat cinta? Pengkhianat itu orang yang menyalahgunakan kepercayaan. Menurutku pengkhianat cinta itu juga bisa ketika kita mencintai makhluk lebih daripada Penciptanya. Misal, setiap manusia diberi hati dengan rasa cinta karena Allah Yang Maha Penyayang, akan tetapi rasa itu diumbar secara berlebihan dan salah sasaran. Mencintai pacar kebangeten (berlebihan, ed) sampai menomor sekiankan Allah, orang tua, juga diri sendiri dan rasa malu. Cinta itu suci, tulus dan ikhlas. Jangan sampai ternoda dech! Kalau terlanjur, cepat perbaiki. Pengkhianat cinta mungkin nggak bisa disalahkan sepenuhnya, mungkin karena dia belum tahu seperti apa cinta itu. Sama halnya dengan cinta orang tua, mereka bekerja untuk kehidupan kita. Bahkan mereka tidak tahu apakah kita akan berbakti atau tidak, tapi mereka tetap mencintai kita dan berdoa yang baik-baik, padahal mungkin kita bolos sekolah, nakal, curang tentang uang SPP, bohong, apalagi sampai melakukan tindak kriminal… berarti kita juga sudah jadi pengkhianat cinta! Baik cinta kepada orang tua, juga cinta kepada Allah. Iya kan?”
Demikianlah beberapa pendapat yang bisa menjadi bahan pembanding. Khusus untuk topik kali ini, saya tidak melibatkan gank saya karena mereka sedang sibuk dengan urusan masing-masing.
Sebelum melangkah lebih jauh, kita sebutkan dulu beberapa penyebab seseorang berkhianat, menyeleweng atau selingkuh. Anda boleh menambahkan sendiri:
1. Kita kurang menjaga perasaannya
2. Si dia mencari atau menemukan yang lebih baik atau lebih sempurna dari kita
3. Si dia ingin sesuatu yang lebih dari apa yang sudah kita berikan
4. Si dia sedang mencari sensasi baru
5. Si dia bukan tipe pasangan setia
6. Si dia memang sengaja melukai hati kita
7. Si dia memang seorang buaya darat (untuk lelaki) atau buaya laut (untuk wanita)
8. Dasar sifatnya playboy atau playgirl
Demikian mungkin beberapa alasan kenapa “si dia” yang sangat kita cintai membalas cinta kita yang tulus, suci, plus murni dengan sebuah pengkhianatan yang kejam dan tidak berperi kekasihsayangan.
“Mas, padahal aku sangat mencintainya. Aku mencintainya dengan sepenuh jiwaku. Ketika kami melakukan janji setia, langit dan bumi jadi saksinya. Bahkan dia memintaku untuk bersumpah setia atas nama Tuhan. Aku berpikir bahwa dialah jodoh sejatiku…, tapi kenapa dia tega menduakan cintaku dan menghancurkan perasaanku…?!”
“Hmm, tanya sendiri sama orangnya donk… Aa nggak tau! Nich, ada kolor sepatu warna hitam… bisa untuk gantung diri. Tapi putus tidak ditanggung, hehehehe…”
Sahabat, begitulah kalau hati kita tertambat kepada selain Dia Yang Maha Esa. Kalau patah hati pasti menderita. Bagi anda yang sudah biasa dikhianati mungkin tidak merasakan sakit lagi atau malah tidak percaya lagi dengan yang namanya “cinta”.
Saya pikir pengalaman “dikhianati” seseorang yang kita cintai adalah merupakan salah satu berkah, rahmat atau hidayah dari-Nya agar kita mau menginsafi kesalahan dan melakukan instrospeksi diri. Ternyata Dia Maha Membolak-balikkan Hati, sehingga dalam hitungan detik bisa mengubah perasaan yang tadinya suka/cinta dengan kita menjadi sebaliknya.
Jadi, jangan terlalu sedih atau terluka dengan pengalaman yang satu ini. Juga jangan membenci si dia yang telah mengkhianati cinta kita yang seputih salju Himalaya. Sakit hati karena dikhianati benar-benar akan menjadi ladang pembelajaran bagi kita dalam melatih emosi dan bersikap lebih dewasa. Pengalaman sakit hati akan membuat kita lebih bijak dalam menjalani kehidupan jika kita mau belajar darinya.
Bicara masalah sakit hati karena dikhianati, bukannya saya tidak pernah mengalaminya. Justru pengalaman itu adalah pengalaman terpahit yang pernah saya alami. Namun, dari pengalaman itulah saya banyak mendapatkan pemahaman dan ilmu baru. Saya tidak tahu bagi anda yang mengalami pengalaman yang sama, apakah bisa mengambil manfaatnya atau tidak. Tapi yang jelas hikmahnya selalu ada.
Dari masa sakit hati itu, adanya sahabat-sahabat sejatilah yang bisa menegarkan dan memberi arti indahnya persahabatan. Bila dikenang, hanya sahabat-sahabat sejati sayalah yang ternyata hadir dengan penuh perhatian dan memberi support mental yang luar biasa. Kalau dipikir, ide-ide gila mereka dalam menghadapi “si pengkhianat cinta”-ku saat itu akan membuat saya tertawa sendiri. Dari itu, terkadang sahabat adalah segalanya karena di satu sisi cinta kasih mereka lebih tulus dari kekasih kita yang sebenarnya. Dan sahabat ternyata selalu ada di saat kita benar-benar membutuhkannya.
Jadi ingat hari Minggu kemarin, saya harus meng-cancel beberapa acaraku karena ternyata seorang temanku telah mendaftarkan namaku di acara Seminar Motivasi yang diadakan di kampusnya. Minggu pagi, berempat kami pergi bersama menghadiri seminar tersebut dengan harapan ada ilmu baru yang bisa kami dapatkan. Pulangnya, saya pun mampir ke Warung Bakso favorit kesukaan kawanku. Sahabat sejati… selalu ingat kita di saat kita mungkin tidak ingat dia. Jauh beda dengan si dia yang telah mengkhianati kita.
Selanjutnya, berikut beberapa hal yang mungkin bisa anda lakukan bila ternyata sudah menjadi takdir cinta anda yang katanya tulus dan suci hanya mendapat balasan berupa sebuah pengkhianatan yang “menyakitkan”. Saya sengaja memberi tanda petik pada kata menyakitkan, karena sesungguhnya itu hanya sebagai akibat penilaian (pemberian makna) pikiran kita secara subyektif. Jika kita belajar NLP (Neuro Linguistic Programming) maka akan dijelaskan bahwa sesungguhnya semua kejadian itu bersifat “netral”, hanya pikiran kita saja yang menilai atau memberi “makna”.
Ok, mari kita bahas satu per satu…!
Introspeksi diri dan menjadi pribadi yang lebih baik
Mengatahui ternyata si dia yang sangat kita cinta koq bisa-bisanya meninggalkan kita dan berdua dengan orang lain harusnya disikapi dengan pemikiran bahwa ternyata diri kita bukanlah makhluk yang sempurna. Jika kita manusia yang sempurna, mana mungkin kekasih kita akan pergi meninggalkan kita dan menjalin cinta dengan orang lain. Kita seharusnya melakukan instrospeksi diri. Ternyata diri kita masih banyak kekurangannya sehingga tidak bisa mempertahankan cinta si dia kepada diri kita. Dari sini kita sama sekali tidak boleh bersikap sombong, meskipun secara fisik kita ini cantik dan pernah menjadi covergirl atau tampan dan rupawan. Yang layak untuk sombong hanya Allah SWT.
Setelah kita menganalisis kekurangan diri kita maka langkah selanjutnya adalah memperbaiki diri agar kekurangan-kekurangan tersebut bisa kita minimalisir dengan kelebihan yang ada pada diri kita. Jadikan “sakit karena dikhianati” sebagai cambuk agar diri kita bisa menjadi lebih baik, secara lahir maupun batin.
Dalam proses perbaikan diri ini tidak usah anda mengharapkan si dia akan kembali pada anda, karena setelah dia berkhianat/berselingkuh maka anda tahu bahwa ternyata cintanya tidaklah murni.
“Tapi aku sangat mencintainya, Mas! Aku sangat menyayanginya!”
Tidak perlu diuraikan lebih jauh lagi ya, karena kalau sudah begini maka yang bicara adalah emosi. Dan kalau menuruti emosi maka tidak akan ada titik temunya.
“Kalau si dia mau tobat, bagaimana Mas?”
“Kalau dia mau tobat maka dia tidak akan mencari cintamu lagi. Dia hanya akan menemuimu untuk minta maaf, kemudian tiap malam dia akan bersujud memohon ampunan-Nya dan taqarrub ilallah…”
“Hmm…, masuk akal juga. Matur nuwun, Mas!”
Memaafkan dan mengikhlaskan
Langkah selanjutnya ialah memaafkan dan mengikhlaskan, tidak hanya orangnya, tapi juga perbuatan si dia yang membuat luka di hati kita. Ini dimaksudkan agar kita bisa merelease emosi negatif berupa amarah, sakit hati maupun dendam dari hati kita, karena semua emosi tersebut adalah emosi yang akan sangat menghambat kemajuan diri kita. Orang yang menyimpan dendam cenderung akan sulit meraih kesuksesan karena semua emosi negatif tersebut akan menyedot energi psikis kita. Jadi, bukannya kita tambah bahagia, namun makin menderita.
Maafkanlah orang yang telah mengkhianati kita, karena memaafkan adalah akhlak yang dicontohkan Rasulullah Saw. Kalau tidak ada orang yang menyakiti hati kita maka kapan kita praktek langsung meneladani akhlak Nabi, yakni memaafkan.
Ikhlaskanlah, karena sesungguhnya semua yang ada di dunia ini—termasuk orang yang menyakiti hati kita—juga adalah milikNya. Ikhlaskan kepergiannya dari hati kita agar tidak ada emosi negatif yang bersarang di hati dan menjadi sumber penyakit, baik lahir maupun batin.
Pernah beberapa tahun yang lalu ketika sedang merasakan sakit hati karena dikhianati, seorang kawan yang sedang pulang dari kuliahnya di Jakarta berkunjung dan berkata, “Bersyukurlah coy, itu tandanya Allah masih sayang sama kamu dan mau menunjukkan bahwa dia bukanlah yang terbaik untukmu. Untung selingkuhnya sekarang, coba kalau nanti ketika dia sudah jadi istrimu…”
Yakinlah bahwa hukum karma itu ada
Jika kita mau membuka kitab suci, di situ Allah SWT berfirman dalam Surat Al Israa’ ayat 7 yang artinya, “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri…”. Dari sini kita tahu bahwa jika orang lain menyakiti kita sesungguhnya dia sedang menyakiti dirinya sendiri. Demikian juga jika menyakiti orang lain, sesungguhnya kita juga sedang menyakiti diri sendiri. Pendek kata, semua itu akan ada balasannya, baik di dunia ini maupun di akhirat nanti.
Hukum karma atau hukum tebar-tuai menyatakan bahwa apa yang kita tebar maka itulah yang akan kita peroleh. Jika yang kita tebar adalah kejahatan, maka bisa dipastikan kejahatan juga yang akan menimpa kita. Begitu juga jika yang kita tebar adalah benih-benih kebaikan, maka kebaikan pula yang akan menghampiri kita, bahkan jumlahnya bisa berlipat ganda.
Sekedar berbagi pengalaman, ternyata bisa dibuktikan… wanita yang pernah mengkhianati saya (telah saya maafkan) juga ditinggal kekasihnya begitu dia (pacar barunya) tahu bahwa saat itu si gadis masih ada hubungan dengan saya yang seorang coverboy ini [mendengar kata “coverboy” yang dinisbatkan ke saya, seperti biasa, membuat beberapa teman saya yang sedang duduk manis tiba-tiba langsung nungging dan menjulur-julurkan lidahnya seperti ada yang mau dimuntahkan… tidak tahu kenapa, aneh?].
Karma… selalu ada balasan bagi setiap perbuatan atau tindakan yang berhubungan dengan diri dan perasaan orang lain. Oleh karena itu, hati-hatilah…!
Sekedar untuk bahan renungan, dari kisah “pengkhianatan cinta” yang pernah saya alami (semoga pertama dan terakhir), ternyata wanita yang menjadi tokoh utama kisah tersebut sampai sekarang masih “sendiri”. Dan pernah suatu saat ketika bertemu, dia seolah mencoba menarik simpatiku atau seperti ingin menggali lagi cintaku yang dulu sedalam laut biru. [Salah sendiri kenapa dikau mengkhianati seorang coverboy… Maksudnya coverboy majalah “Manusia Purba”, hehehe…].
Beberapa teman kalau sedang bercanda berceloteh asal bunyi, “Kenapa tidak CLBK saja, Mas…?” [CLBK menurut temanku adalah singkatan dari Cinta Lama Bersemi Kembali].
“Hmm… bagiku selalu tidak ada kesempatan kedua…!”
“Ya, kami tahu… kesalahan yang pernah dia perbuat tidak mungkin membuat dia berani ngejar-ngejar kamu lagi. Sabar bro, masih banyak wanita lain yang lebih baik dari dia…”
“Thanks sobat! Tapi, masalahnya adalah: mereka tidak ada yang mau…”
“Ah, nggak percaya…! Kami tahu itu, si A, si B, si C, dan si X ada rasa sama kamu… Kenapa nggak pilih salah satu? Bukalah sedikit pintu hatimu…”
“Hmm…” [tidak bisa jawab, ada tanda tanya plus tanda pentung].
“Ngomong donk… koq diem aja…?”
“Mungkin benar ungkapan yang menyatakan hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga. Namun, menurutku ‘cinta’ yang dimaksud adalah cinta dari Sang Pemilik Cinta… Adakah manusia yang mencintai sesamanya demi mengharap keridhaan-Nya…?”
“Ok, kami setuju!!!”
So, jangan pernah takut untuk disakiti, namun takutlah untuk menyakiti.
Menjadi Kesayangan Allah
Merasakan pedihnya cinta kita dikhianati mungkin akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan dan tak ingin terulang lagi. Namun, boleh jadi dengan cara itu Allah SWT sedang mengingatkan kita (bagi yang mau sadar) agar tidak menambatkan seluruh cinta kita kepada sesama makhluk-Nya. Kita mencintai dengan sepenuh hati dan pengharapan, tapi justru si dia membalasnya dengan sebuah pengkhianatan yang memilukan. Kaciaaaan dech lo…!
Jika saja si dia tidak mengkhianati anda, belum tentu anda jadi ingat dengan Sang Pencipta. Bisa saja anda justru bergelimang dosa karena mencoba sesuatu yang belum pada tempatnya, atau memadu nafsu sehingga kemesraan yang anda bina sampai melanggar batas yang dilarang agama. So, jika realitas yang terjadi ternyata si dia berkhianat, mungkin itu sebuah sinyal agar anda segera tobat! Temanku pernah berkata, “Pacaran adalah dosa termanis…” Ya, memang semua jenis maksiat biasanya terasa nikmat bila dikerjakan. Beda jauh dengan ibadah atau amalan-amalan utama yang bisa mendekatkan kita dengan Sang Pencipta; semua terasa berat dan penuh godaan bagi yang belum membiasakannya.
Untuk itu, jika anda sudah terlanjur dikhianati, jangan biarkan hati anda bersedih dan meratapi nasib. Namun, jadikan momentum itu sebagai sarana bagi anda untuk menginsafi diri dan mendekatkan jiwa raga anda pada Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Jadikan setiap keadaan yang tidak nyaman atau menyakitkan sebagai ladang pembelajaran bagi anda untuk memahami kehidupan ini.
Ingat selalu kata bijak berikut ini:
Hal paling buruk yang terjadi terhadap anda mungkin merupakan hal paling baik yang pernah terjadi terhadap diri anda kalau anda tidak membiarkannya mengalahkan diri anda. ~ Napoleon Hill
Dan yang lebih penting lagi, renungkan baik-baik firman Allah dalam Al Qur’an Surat Al Baqarah ayat 216 yang artinya, “…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
Setelah ini, alangkah baiknya kita terus memperbaiki diri detik demi detik dengan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT (jika muslim) karena Dia-lah sesungguhnya yang harus menjadi tumpuan cinta dan pengharapan kita. Kita tegakkan shalat dengan penuh kekhusyu’an (meskipun sulit, kita harus belajar mencobanya). Kita perbanyak bacaan dzikir di pagi, siang, sore dan malam, baik dengan lisan maupun dengan hati. Dzikir dengan lisan harapannya akan menuntun hati untuk ikut berdzikir. Kita perbanyak tadarus Al Qur’an, tidak hanya di bulan Ramadhan. Kita perbanyak shalat sunnah dan amalan-amalan utama yang pernah dicontohkan Rasulullah Saw. Kita perbanyak sedekah, tidak hanya dengan “senyum”, tapi juga dengan harta yang kita miliki. Kita sambung tali silaturahmi dengan saudara yang memutuskan silaturahmi dengan kita. Dan masih banyak hal utama lainnya yang bisa kita lakukan. Pendek kata, kita jadikan momentum “patah hati karena dikhianati” sebagai ajang pendekatan diri kepada Sang Khalik. Dengan sekuat tenaga kita berusaha terus meningkatkan kualitas maupun kuantitas amal ibadah kita dan kita lakukan secara terus menerus (istiqomah, konsisten) sehingga pada akhirnya kita pun bisa menjadi “Kesayangan Allah”. Jika kita sudah menjadi yang “disayang Allah” maka mungkin kita akan lebih suka terus disakiti sesama manusia namun disayang Dia Yang Maha Kuasa.
***
Demikian sedikit jawaban yang dapat saya sampaikan. Jika ada manfaatnya, itu semua datangnya dari Allah SWT. Dan mohon maaf jika penjelasan di atas masih banyak kekurangannya. Membahas masalah remaja atau dunia anak muda kalau tidak dikembalikan kepada agama maka semua itu tidak akan ada titik temunya dan pencerahan pun akan sangat sulit kita dapatkan.
Dan bagi sahabat yang sudah terlanjur sedang menjalin hubungan istimewa dengan seseorang yang anda kasihi, maka kewajiban anda adalah menjaga si dia dari hal-hal yang bisa menodai kesucian arti cinta. Jangan jadikan kata “cinta” sebagai dalih pelampiasan nafsu syahwat anda, dan jikalau hubungan anda sudah berjalan secara sehat maka jangan sekali-kali mengkhianati kekasih anda. Cukup saya yang pernah dikhianati…!
Jogjakarta, 15 Desember 2011
Sebenarnya masih banyak pertanyaan lain yang sering masuk, namun karena keterbatasan waktu maka mohon maaf belum bisa saya ulas semuanya. Ternyata membahas masalah “cinta” tidak akan pernah ada habisnya, namun berikut akan saya coba menjawab pertanyaan di atas sebisanya sebatas pengetahuan saya yang sangat terbatas.
***
Mencintai adalah pekerjaan yang mulia, karena cinta cenderung melahirkan sifat kasih sayang kepada apa yang kita cinta. Sedangkan sifat “pengasih” dan “penyayang” itu sendiri adalah salah satu sifat Allah SWT, yakni “Ar Rahman” dan “Ar Rahiim”.
Mencintai akan membuat kita melakukan segala sesuatu yang membuat seseorang yang kita cintai merasa senang dan bahagia. Kita rela bersusah payah demi membahagiakan yang kita cinta. Kita rela berkorban waktu, tenaga, pikiran, dan biaya demi mendapatkan dan memelihara cinta seseorang yang kita cintai tersebut. Pendek kata, demi cinta, katanya mati pun rela. Dari sini, Anda pasti tahu bahwa subyek perasaan cinta pada pembahasan kita ini adalah subyek yang hidup, bukan benda mati atau sebuah status belaka.
Ketika kita mendengar kata “cinta” maka seringnya asosiasi kata itu ialah cinta kepada lawan jenis. Cinta kepada pacar atau kekasih, suami atau istri, meskipun sebenarnya obyek cinta itu sangat luas. Untuk kali ini mungkin kita tekankan pada emosi cinta pada kekasih atau orang yang special di hati kita.
Membahas masalah cinta akan sangat panjang dan penuh perdebatan, karena arti “cinta” bagi setiap orang mungkin berbeda-beda. Namun kali ini yang akan kita kupas mungkin sering terjadi, atau mungkin kita sendiri juga pernah mengalaminya. Apa itu? Tidak lain adalah sebuah episode dari true love story perjalanan cinta kita mencari pasangan hidup. Kalau dibuat film (yang kemungkinan besar bisa box office), judulnya adalah “Menghadapi Pengkhianatan Cinta” atau “My Love, Kenapa Kau Tinggalkan Daku…?”.
Ketika kita sedang sepenuh hati mencintai seseorang, kemudian cinta kita berbalas cinta; tidak ditolak mentah-mentah. Dan si dia juga dari mulutnya sudah berkata bahwa perasaannya juga sama. Oh, indahnya dunia ini. Dua cinta berpadu, aneka bunga pun mekar di hati sepasang insan yang sedang kasmaran. Kasmaran: sejauh mana kau kejar cinta? Bila diteropong dengan kacamata empat dimensi maka akan terlihat di atas kepala mereka berdua beterbangan daun waru merah hati yang berkelap-kelip dan berputar-putar. Ada teman saya yang cintanya baru diterima maka hitam-hitam (pupil) di matanya tiba-tiba berubah menjadi warna pink dan bentuknya menyerupai hati (yang ini hanya fiktif belaka…).
Ceritanya sekarang adalah ternyata seseorang (kekasih) yang sangat kita cintai tersebut tiba-tiba berkhianat (menduakan cinta kita, selingkuh, tidak setia). Tentu yang terjadi adalah broken heart; hati kita pun hancur berkeping-keping!
“Dia memang brengsek, bro! Padahal aku ini orang paling setia di dunia…”, demikian sumpah serapah seorang kawan yang lagi patah hati.
Menurut seorang teman saya yang tinggal di pulau Sumatera, dia berpendapat bahwa seorang “pengkhianat cinta”, berarti dia tidak tahu makna sebenarnya tentang cinta itu sendiri. Dia tidak ingin berkomitmen dan tidak ingin terikat dengan cinta yang dia pegang, karena ingin mendapatkan keuntungan dari cinta yang dia tebar (ke orang lain, ed). Dia tidak teguh pendirian dan tidak bisa melihat orang yang lebih cakep atau lebih kaya dari pasangannya.
Sementara itu, teman lain dari Surabaya memiliki pendapat yang agak berbeda sebagai berikut. “Pengkhianat cinta? Pengkhianat itu orang yang menyalahgunakan kepercayaan. Menurutku pengkhianat cinta itu juga bisa ketika kita mencintai makhluk lebih daripada Penciptanya. Misal, setiap manusia diberi hati dengan rasa cinta karena Allah Yang Maha Penyayang, akan tetapi rasa itu diumbar secara berlebihan dan salah sasaran. Mencintai pacar kebangeten (berlebihan, ed) sampai menomor sekiankan Allah, orang tua, juga diri sendiri dan rasa malu. Cinta itu suci, tulus dan ikhlas. Jangan sampai ternoda dech! Kalau terlanjur, cepat perbaiki. Pengkhianat cinta mungkin nggak bisa disalahkan sepenuhnya, mungkin karena dia belum tahu seperti apa cinta itu. Sama halnya dengan cinta orang tua, mereka bekerja untuk kehidupan kita. Bahkan mereka tidak tahu apakah kita akan berbakti atau tidak, tapi mereka tetap mencintai kita dan berdoa yang baik-baik, padahal mungkin kita bolos sekolah, nakal, curang tentang uang SPP, bohong, apalagi sampai melakukan tindak kriminal… berarti kita juga sudah jadi pengkhianat cinta! Baik cinta kepada orang tua, juga cinta kepada Allah. Iya kan?”
Demikianlah beberapa pendapat yang bisa menjadi bahan pembanding. Khusus untuk topik kali ini, saya tidak melibatkan gank saya karena mereka sedang sibuk dengan urusan masing-masing.
Sebelum melangkah lebih jauh, kita sebutkan dulu beberapa penyebab seseorang berkhianat, menyeleweng atau selingkuh. Anda boleh menambahkan sendiri:
1. Kita kurang menjaga perasaannya
2. Si dia mencari atau menemukan yang lebih baik atau lebih sempurna dari kita
3. Si dia ingin sesuatu yang lebih dari apa yang sudah kita berikan
4. Si dia sedang mencari sensasi baru
5. Si dia bukan tipe pasangan setia
6. Si dia memang sengaja melukai hati kita
7. Si dia memang seorang buaya darat (untuk lelaki) atau buaya laut (untuk wanita)
8. Dasar sifatnya playboy atau playgirl
Demikian mungkin beberapa alasan kenapa “si dia” yang sangat kita cintai membalas cinta kita yang tulus, suci, plus murni dengan sebuah pengkhianatan yang kejam dan tidak berperi kekasihsayangan.
“Mas, padahal aku sangat mencintainya. Aku mencintainya dengan sepenuh jiwaku. Ketika kami melakukan janji setia, langit dan bumi jadi saksinya. Bahkan dia memintaku untuk bersumpah setia atas nama Tuhan. Aku berpikir bahwa dialah jodoh sejatiku…, tapi kenapa dia tega menduakan cintaku dan menghancurkan perasaanku…?!”
“Hmm, tanya sendiri sama orangnya donk… Aa nggak tau! Nich, ada kolor sepatu warna hitam… bisa untuk gantung diri. Tapi putus tidak ditanggung, hehehehe…”
Sahabat, begitulah kalau hati kita tertambat kepada selain Dia Yang Maha Esa. Kalau patah hati pasti menderita. Bagi anda yang sudah biasa dikhianati mungkin tidak merasakan sakit lagi atau malah tidak percaya lagi dengan yang namanya “cinta”.
Saya pikir pengalaman “dikhianati” seseorang yang kita cintai adalah merupakan salah satu berkah, rahmat atau hidayah dari-Nya agar kita mau menginsafi kesalahan dan melakukan instrospeksi diri. Ternyata Dia Maha Membolak-balikkan Hati, sehingga dalam hitungan detik bisa mengubah perasaan yang tadinya suka/cinta dengan kita menjadi sebaliknya.
Jadi, jangan terlalu sedih atau terluka dengan pengalaman yang satu ini. Juga jangan membenci si dia yang telah mengkhianati cinta kita yang seputih salju Himalaya. Sakit hati karena dikhianati benar-benar akan menjadi ladang pembelajaran bagi kita dalam melatih emosi dan bersikap lebih dewasa. Pengalaman sakit hati akan membuat kita lebih bijak dalam menjalani kehidupan jika kita mau belajar darinya.
Bicara masalah sakit hati karena dikhianati, bukannya saya tidak pernah mengalaminya. Justru pengalaman itu adalah pengalaman terpahit yang pernah saya alami. Namun, dari pengalaman itulah saya banyak mendapatkan pemahaman dan ilmu baru. Saya tidak tahu bagi anda yang mengalami pengalaman yang sama, apakah bisa mengambil manfaatnya atau tidak. Tapi yang jelas hikmahnya selalu ada.
Dari masa sakit hati itu, adanya sahabat-sahabat sejatilah yang bisa menegarkan dan memberi arti indahnya persahabatan. Bila dikenang, hanya sahabat-sahabat sejati sayalah yang ternyata hadir dengan penuh perhatian dan memberi support mental yang luar biasa. Kalau dipikir, ide-ide gila mereka dalam menghadapi “si pengkhianat cinta”-ku saat itu akan membuat saya tertawa sendiri. Dari itu, terkadang sahabat adalah segalanya karena di satu sisi cinta kasih mereka lebih tulus dari kekasih kita yang sebenarnya. Dan sahabat ternyata selalu ada di saat kita benar-benar membutuhkannya.
Jadi ingat hari Minggu kemarin, saya harus meng-cancel beberapa acaraku karena ternyata seorang temanku telah mendaftarkan namaku di acara Seminar Motivasi yang diadakan di kampusnya. Minggu pagi, berempat kami pergi bersama menghadiri seminar tersebut dengan harapan ada ilmu baru yang bisa kami dapatkan. Pulangnya, saya pun mampir ke Warung Bakso favorit kesukaan kawanku. Sahabat sejati… selalu ingat kita di saat kita mungkin tidak ingat dia. Jauh beda dengan si dia yang telah mengkhianati kita.
Selanjutnya, berikut beberapa hal yang mungkin bisa anda lakukan bila ternyata sudah menjadi takdir cinta anda yang katanya tulus dan suci hanya mendapat balasan berupa sebuah pengkhianatan yang “menyakitkan”. Saya sengaja memberi tanda petik pada kata menyakitkan, karena sesungguhnya itu hanya sebagai akibat penilaian (pemberian makna) pikiran kita secara subyektif. Jika kita belajar NLP (Neuro Linguistic Programming) maka akan dijelaskan bahwa sesungguhnya semua kejadian itu bersifat “netral”, hanya pikiran kita saja yang menilai atau memberi “makna”.
Ok, mari kita bahas satu per satu…!
Introspeksi diri dan menjadi pribadi yang lebih baik
Mengatahui ternyata si dia yang sangat kita cinta koq bisa-bisanya meninggalkan kita dan berdua dengan orang lain harusnya disikapi dengan pemikiran bahwa ternyata diri kita bukanlah makhluk yang sempurna. Jika kita manusia yang sempurna, mana mungkin kekasih kita akan pergi meninggalkan kita dan menjalin cinta dengan orang lain. Kita seharusnya melakukan instrospeksi diri. Ternyata diri kita masih banyak kekurangannya sehingga tidak bisa mempertahankan cinta si dia kepada diri kita. Dari sini kita sama sekali tidak boleh bersikap sombong, meskipun secara fisik kita ini cantik dan pernah menjadi covergirl atau tampan dan rupawan. Yang layak untuk sombong hanya Allah SWT.
Setelah kita menganalisis kekurangan diri kita maka langkah selanjutnya adalah memperbaiki diri agar kekurangan-kekurangan tersebut bisa kita minimalisir dengan kelebihan yang ada pada diri kita. Jadikan “sakit karena dikhianati” sebagai cambuk agar diri kita bisa menjadi lebih baik, secara lahir maupun batin.
Dalam proses perbaikan diri ini tidak usah anda mengharapkan si dia akan kembali pada anda, karena setelah dia berkhianat/berselingkuh maka anda tahu bahwa ternyata cintanya tidaklah murni.
“Tapi aku sangat mencintainya, Mas! Aku sangat menyayanginya!”
Tidak perlu diuraikan lebih jauh lagi ya, karena kalau sudah begini maka yang bicara adalah emosi. Dan kalau menuruti emosi maka tidak akan ada titik temunya.
“Kalau si dia mau tobat, bagaimana Mas?”
“Kalau dia mau tobat maka dia tidak akan mencari cintamu lagi. Dia hanya akan menemuimu untuk minta maaf, kemudian tiap malam dia akan bersujud memohon ampunan-Nya dan taqarrub ilallah…”
“Hmm…, masuk akal juga. Matur nuwun, Mas!”
Memaafkan dan mengikhlaskan
Langkah selanjutnya ialah memaafkan dan mengikhlaskan, tidak hanya orangnya, tapi juga perbuatan si dia yang membuat luka di hati kita. Ini dimaksudkan agar kita bisa merelease emosi negatif berupa amarah, sakit hati maupun dendam dari hati kita, karena semua emosi tersebut adalah emosi yang akan sangat menghambat kemajuan diri kita. Orang yang menyimpan dendam cenderung akan sulit meraih kesuksesan karena semua emosi negatif tersebut akan menyedot energi psikis kita. Jadi, bukannya kita tambah bahagia, namun makin menderita.
Maafkanlah orang yang telah mengkhianati kita, karena memaafkan adalah akhlak yang dicontohkan Rasulullah Saw. Kalau tidak ada orang yang menyakiti hati kita maka kapan kita praktek langsung meneladani akhlak Nabi, yakni memaafkan.
Ikhlaskanlah, karena sesungguhnya semua yang ada di dunia ini—termasuk orang yang menyakiti hati kita—juga adalah milikNya. Ikhlaskan kepergiannya dari hati kita agar tidak ada emosi negatif yang bersarang di hati dan menjadi sumber penyakit, baik lahir maupun batin.
Pernah beberapa tahun yang lalu ketika sedang merasakan sakit hati karena dikhianati, seorang kawan yang sedang pulang dari kuliahnya di Jakarta berkunjung dan berkata, “Bersyukurlah coy, itu tandanya Allah masih sayang sama kamu dan mau menunjukkan bahwa dia bukanlah yang terbaik untukmu. Untung selingkuhnya sekarang, coba kalau nanti ketika dia sudah jadi istrimu…”
Yakinlah bahwa hukum karma itu ada
Jika kita mau membuka kitab suci, di situ Allah SWT berfirman dalam Surat Al Israa’ ayat 7 yang artinya, “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri…”. Dari sini kita tahu bahwa jika orang lain menyakiti kita sesungguhnya dia sedang menyakiti dirinya sendiri. Demikian juga jika menyakiti orang lain, sesungguhnya kita juga sedang menyakiti diri sendiri. Pendek kata, semua itu akan ada balasannya, baik di dunia ini maupun di akhirat nanti.
Hukum karma atau hukum tebar-tuai menyatakan bahwa apa yang kita tebar maka itulah yang akan kita peroleh. Jika yang kita tebar adalah kejahatan, maka bisa dipastikan kejahatan juga yang akan menimpa kita. Begitu juga jika yang kita tebar adalah benih-benih kebaikan, maka kebaikan pula yang akan menghampiri kita, bahkan jumlahnya bisa berlipat ganda.
Sekedar berbagi pengalaman, ternyata bisa dibuktikan… wanita yang pernah mengkhianati saya (telah saya maafkan) juga ditinggal kekasihnya begitu dia (pacar barunya) tahu bahwa saat itu si gadis masih ada hubungan dengan saya yang seorang coverboy ini [mendengar kata “coverboy” yang dinisbatkan ke saya, seperti biasa, membuat beberapa teman saya yang sedang duduk manis tiba-tiba langsung nungging dan menjulur-julurkan lidahnya seperti ada yang mau dimuntahkan… tidak tahu kenapa, aneh?].
Karma… selalu ada balasan bagi setiap perbuatan atau tindakan yang berhubungan dengan diri dan perasaan orang lain. Oleh karena itu, hati-hatilah…!
Sekedar untuk bahan renungan, dari kisah “pengkhianatan cinta” yang pernah saya alami (semoga pertama dan terakhir), ternyata wanita yang menjadi tokoh utama kisah tersebut sampai sekarang masih “sendiri”. Dan pernah suatu saat ketika bertemu, dia seolah mencoba menarik simpatiku atau seperti ingin menggali lagi cintaku yang dulu sedalam laut biru. [Salah sendiri kenapa dikau mengkhianati seorang coverboy… Maksudnya coverboy majalah “Manusia Purba”, hehehe…].
Beberapa teman kalau sedang bercanda berceloteh asal bunyi, “Kenapa tidak CLBK saja, Mas…?” [CLBK menurut temanku adalah singkatan dari Cinta Lama Bersemi Kembali].
“Hmm… bagiku selalu tidak ada kesempatan kedua…!”
“Ya, kami tahu… kesalahan yang pernah dia perbuat tidak mungkin membuat dia berani ngejar-ngejar kamu lagi. Sabar bro, masih banyak wanita lain yang lebih baik dari dia…”
“Thanks sobat! Tapi, masalahnya adalah: mereka tidak ada yang mau…”
“Ah, nggak percaya…! Kami tahu itu, si A, si B, si C, dan si X ada rasa sama kamu… Kenapa nggak pilih salah satu? Bukalah sedikit pintu hatimu…”
“Hmm…” [tidak bisa jawab, ada tanda tanya plus tanda pentung].
“Ngomong donk… koq diem aja…?”
“Mungkin benar ungkapan yang menyatakan hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga. Namun, menurutku ‘cinta’ yang dimaksud adalah cinta dari Sang Pemilik Cinta… Adakah manusia yang mencintai sesamanya demi mengharap keridhaan-Nya…?”
“Ok, kami setuju!!!”
So, jangan pernah takut untuk disakiti, namun takutlah untuk menyakiti.
Menjadi Kesayangan Allah
Merasakan pedihnya cinta kita dikhianati mungkin akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan dan tak ingin terulang lagi. Namun, boleh jadi dengan cara itu Allah SWT sedang mengingatkan kita (bagi yang mau sadar) agar tidak menambatkan seluruh cinta kita kepada sesama makhluk-Nya. Kita mencintai dengan sepenuh hati dan pengharapan, tapi justru si dia membalasnya dengan sebuah pengkhianatan yang memilukan. Kaciaaaan dech lo…!
Jika saja si dia tidak mengkhianati anda, belum tentu anda jadi ingat dengan Sang Pencipta. Bisa saja anda justru bergelimang dosa karena mencoba sesuatu yang belum pada tempatnya, atau memadu nafsu sehingga kemesraan yang anda bina sampai melanggar batas yang dilarang agama. So, jika realitas yang terjadi ternyata si dia berkhianat, mungkin itu sebuah sinyal agar anda segera tobat! Temanku pernah berkata, “Pacaran adalah dosa termanis…” Ya, memang semua jenis maksiat biasanya terasa nikmat bila dikerjakan. Beda jauh dengan ibadah atau amalan-amalan utama yang bisa mendekatkan kita dengan Sang Pencipta; semua terasa berat dan penuh godaan bagi yang belum membiasakannya.
Untuk itu, jika anda sudah terlanjur dikhianati, jangan biarkan hati anda bersedih dan meratapi nasib. Namun, jadikan momentum itu sebagai sarana bagi anda untuk menginsafi diri dan mendekatkan jiwa raga anda pada Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Jadikan setiap keadaan yang tidak nyaman atau menyakitkan sebagai ladang pembelajaran bagi anda untuk memahami kehidupan ini.
Ingat selalu kata bijak berikut ini:
Hal paling buruk yang terjadi terhadap anda mungkin merupakan hal paling baik yang pernah terjadi terhadap diri anda kalau anda tidak membiarkannya mengalahkan diri anda. ~ Napoleon Hill
Dan yang lebih penting lagi, renungkan baik-baik firman Allah dalam Al Qur’an Surat Al Baqarah ayat 216 yang artinya, “…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
Setelah ini, alangkah baiknya kita terus memperbaiki diri detik demi detik dengan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT (jika muslim) karena Dia-lah sesungguhnya yang harus menjadi tumpuan cinta dan pengharapan kita. Kita tegakkan shalat dengan penuh kekhusyu’an (meskipun sulit, kita harus belajar mencobanya). Kita perbanyak bacaan dzikir di pagi, siang, sore dan malam, baik dengan lisan maupun dengan hati. Dzikir dengan lisan harapannya akan menuntun hati untuk ikut berdzikir. Kita perbanyak tadarus Al Qur’an, tidak hanya di bulan Ramadhan. Kita perbanyak shalat sunnah dan amalan-amalan utama yang pernah dicontohkan Rasulullah Saw. Kita perbanyak sedekah, tidak hanya dengan “senyum”, tapi juga dengan harta yang kita miliki. Kita sambung tali silaturahmi dengan saudara yang memutuskan silaturahmi dengan kita. Dan masih banyak hal utama lainnya yang bisa kita lakukan. Pendek kata, kita jadikan momentum “patah hati karena dikhianati” sebagai ajang pendekatan diri kepada Sang Khalik. Dengan sekuat tenaga kita berusaha terus meningkatkan kualitas maupun kuantitas amal ibadah kita dan kita lakukan secara terus menerus (istiqomah, konsisten) sehingga pada akhirnya kita pun bisa menjadi “Kesayangan Allah”. Jika kita sudah menjadi yang “disayang Allah” maka mungkin kita akan lebih suka terus disakiti sesama manusia namun disayang Dia Yang Maha Kuasa.
***
Demikian sedikit jawaban yang dapat saya sampaikan. Jika ada manfaatnya, itu semua datangnya dari Allah SWT. Dan mohon maaf jika penjelasan di atas masih banyak kekurangannya. Membahas masalah remaja atau dunia anak muda kalau tidak dikembalikan kepada agama maka semua itu tidak akan ada titik temunya dan pencerahan pun akan sangat sulit kita dapatkan.
Dan bagi sahabat yang sudah terlanjur sedang menjalin hubungan istimewa dengan seseorang yang anda kasihi, maka kewajiban anda adalah menjaga si dia dari hal-hal yang bisa menodai kesucian arti cinta. Jangan jadikan kata “cinta” sebagai dalih pelampiasan nafsu syahwat anda, dan jikalau hubungan anda sudah berjalan secara sehat maka jangan sekali-kali mengkhianati kekasih anda. Cukup saya yang pernah dikhianati…!
Jogjakarta, 15 Desember 2011
Kamis, 22 Desember 2011
Tak Bisa Kembali
Inilah sebuah kenyataan antara diriku dan dirimu,yaitu bahwa antara diriku dan dirimu tak bisa kembali. Sebuah kenangan masa lalu, mari kita jadikan sebuah pembelajaran dari diri kita.Tak bisa kita memaksakan sebuah kehendak, dimana menyatunya antara hati dari insan manusia bersifat sepihak atau ada pemaksaan. Ada pertemuan pasti ada perpisahan.Janganlah ada dendam diantara kita. Semua pasti ada hikmahnya.
Kau masih ingat, dimana ucapan2mu, justru menjadi bumerang buat dirimu.Masih ingatkah kau, dimana kau sendiri yang menyatakan ingin berpisah denganku. Masih ingatkah kau, waktu kau menjalin cinta gelap dengan seseorang, dan kau nampak gembira karenanya.Masih ingatkah kau, bahwa kau sangat menggebu-gebu ingin agar aku meninggalkan dirimu. Ada apa dengan dirimu waktu itu? Lalu kau sekarang mengingkarinya??
Aku tidak masalah kau mengatakan aku seperti apa katamu, bagiku aku sudah melaksanakan sebuah kewajiban sebagai seorang laki2 pada umumnya.Kau memang pintar berdalih.Ucapan2mu seperti ular berbisa.Yang kupinta janganlah ada dendam.Dendam tidaklah baik.Hidup cuman sebentar.Setiap kehidupan pasti ada kematian.Janganlah hidup hanya diisi dengan hal-hal kecil yang tidak perlu, seperti pikiran negatig, fitnah, diperbudak uang, dan diperbudak dunia. Mari bersama kita ciptakan kedamaian hati antar kita berdua, sebagai seorang sahabat dan sebagai seorang mantan.Bagaimanapun aku tak bisa kembali lagi.
Pondok Hasanudin
22 Desember 2011
Kau masih ingat, dimana ucapan2mu, justru menjadi bumerang buat dirimu.Masih ingatkah kau, dimana kau sendiri yang menyatakan ingin berpisah denganku. Masih ingatkah kau, waktu kau menjalin cinta gelap dengan seseorang, dan kau nampak gembira karenanya.Masih ingatkah kau, bahwa kau sangat menggebu-gebu ingin agar aku meninggalkan dirimu. Ada apa dengan dirimu waktu itu? Lalu kau sekarang mengingkarinya??
Aku tidak masalah kau mengatakan aku seperti apa katamu, bagiku aku sudah melaksanakan sebuah kewajiban sebagai seorang laki2 pada umumnya.Kau memang pintar berdalih.Ucapan2mu seperti ular berbisa.Yang kupinta janganlah ada dendam.Dendam tidaklah baik.Hidup cuman sebentar.Setiap kehidupan pasti ada kematian.Janganlah hidup hanya diisi dengan hal-hal kecil yang tidak perlu, seperti pikiran negatig, fitnah, diperbudak uang, dan diperbudak dunia. Mari bersama kita ciptakan kedamaian hati antar kita berdua, sebagai seorang sahabat dan sebagai seorang mantan.Bagaimanapun aku tak bisa kembali lagi.
Pondok Hasanudin
22 Desember 2011
Minggu, 04 Desember 2011
UNTUK BEKAS KEKASIHKU
Kekasihku,
Dengan surat ini berakhirlah kisah cinta yang pahit. Berakhirlah tujuh tahun dari umurku. Tahun-tahun yang panjang membentang, berisi keganasan samudera, kesunyian sahara, dan cinta dari satu arah, yaitu dari arahku saja. Pada tahun-tahun itu aku seperti seorang nelayan, yang naik sebuah biduk kecil, turun ke tengah lautan pada hari mendung dan penuh badai. Nelayan itu hanya mengenakan selembar baju yang sobek dan compang-camping. Baju itu adalah cintaku kepadamu.
Diammu adalah gunting yang merobek-robek bajuku.
Aku memakai baju itu, dan aku tidak membencimu sedikitpun. Setiap hari aku termenung di jendela untuk memburu satu hal saja, yaitu dirimu. Aku mendengarmu, tapi tidak melihatmu. Aku melihatmu, tapi tidak dapat mendapatkan hatimu. Dulu aku punya harapan dan hingga sekarangpun aku tak kehilangan harapan itu. Iblis yang diusir Allah dari surga pun masih bermimpi kembali ke sana. Iblis tidak kehilangan harapannya, sebab Allah kuasa memaafkan semua yang bersalah, keturunan iblis sekalipun. Tapi, aku bukan iblis, dan akupun bukan Allah. Itu yang membuat posisiku sulit.
Pujaanku. Kekasihku.
Engkau adalah anak kecil yang belum dewasa. Kau pikir cintaku kepadamu adalah "uang saku" yang harus kuberikan kepadamu setiap hari. Aku yang selalu memberi dan engkau yang memasukkannya ke dalam sakumu. Seringkali sakumu itu bolong sehingga cintaku jatuh berceceran di tanah. Berkali-kali aku mengumpulkannya kembali dari mulut orang-orang, dari mulut saudara-saudaramu, saudara-saudaraku, dan teman-temanku. Lalu, pada hari berikutnya aku memberikan kembali uang saku yang sangat besar itu kepadamu. Menurutku, yang kuberikan sangatlah besar, meskipun menurutmu itu sangat kecil. Engkau benar. Engkau layak mendapatkan lebih banyak daripada yang telah kuberi. Engkau layak memiliki dunia seluruhnya. Andai saja kupunya itu. Tapi, yang kupunya hanya diriku dan itu telah kuberikan kepadamu dengan suka rela.
Kemudian, aku melihat cintaku berjalan pada satu arah saja dan tidak kembali ke arahku. Hatiku seperti matahari yang berjalan dari Timur ke Barat, dan tidak kembali dari Barat ke Timur. Aku mengusahakan sesuatu yang mustahil padamu: aku berusaha mengajarkanmu kata-kata cinta untuk kauucapkan kepadaku, berusaha membuat cinta menjadi tembang di lidahmu, berusaha memaksamu berdusta dan berkata kepadaku walau hanya sekali, "Aku cinta kepadamu".
Hal itu kulakukan karena kuingin melihat wajahmu saat kau ucapkan huruf-huruf kecil yang kunanti-nanti sepanjang hidupku. Aku membayangkan seorang gadis bahagia yang kau katakan kepadanya pada suatu hari: aku cinta kepadamu. Itulah kemustahilan yang telah kuusahakan kepadamu! Bahkan, aku pernah memintamu mencintai gadis lain agar kau tahu bagaimana rasanya tersiksa seperti yang kurasa, agar kau tahu hal-hal kecil yang membahagiakan dan menyedihkanku. Aku tidak membencimu sedikitpun. Aku katakan kata-kata ini, "aku sangat mencintaimu, sekaligus kasihan kepadamu".
Aku merasa kasihan kepadamu karena engkau adalah orang bodoh yang tidak mengetahui lezatnya perasaan dan indahnya khayalan yang menjadi bunga-bunga mimpi orang-orang yang sedang dimabuk cinta. Engkau hanya memiliki indera mata, telinga, hidung, dan lidah. Ada satu indera yang tidak engkau miliki. Aku sembahyang dan berdoa untukmu agar Allah memberikanmu indera itu dan menghindarkanmu dari rasa tersiksa seperti yang kurasa, sebab aku tidak membencimu sedikitpun.
Aku pernah meminta-minta kepadamu agar mencintaiku. Cintaku kepadamu seperti air hujan yang turun dari awan dengan sendirinya, sedangkan cintamu kepadaku seperti air yang turun dari kran karena permintaan. Aku rela kau cintai atas dasar permintaanku, rela menjadi kekasihmu bukan atas dasar keinginanmu sendiri. Aku rela mendapat kehinaan itu, sebab aku tidak membayangkan engkau membenciku, engkau tidak mungkin membenciku, sebab aku bukan boneka, bukan gadis bodoh, selain itu aku pun mencintaimu. Aku menyukai beban ini demi lelaki yang kucintai. Aku seperti gadis-gadis lain yang suka merasa tersiksa demi lelaki yang kami cintai.
Aku tidak pernah kehilangan harapan. Aku percaya, hatimu seperti kamera yang akan terbuka pada suatu hari dan hanya mendapati diriku di hadapannya. Aku akan menjadi foto pertama yang tercetak di album hidupmu. Setiap kali aku membayangkan itu, aku mengerti bahwa kamera itu sudah bergerak, tapi tidak terdapat film di dalamnya. Aku tidak putus asa. Kukatakan, hatimu sedang bermain-main dengan api, dan orang yang bermain api pasti terbakar bajunya. Tidak kukatakan terbakar hatinya, sebab aku tidak berambisi hingga derajat itu.
Akhirnya, aku yakin bahwa aku sedang menentang kesombongan laki-laki pada dirimu. Laki-laki tak sudi terlihat lemah. Kesombongan membuatnya membayangkan bahwa cinta adalah kelemahan. Jika cinta seperti itu,m maka aku tidak suka di dalam dirimu ada cinta dan aku tidak suka melihat tanda-tanda cinta di wajahmu. Aku memang senang engkau mencemaskanku, tapi aku tidak suka engkau terlihat cemas. Aku memang berharap melihatmu mencucurkan air mata demi diriku, tapi aku membenci engkau mencucurkan air mata.
Aku menjadi putus asa saat tahu bahwa kesombonganmu telah membubung hingga menjadi sekat yang tertanam di dadamu dan mengangkat kepalamu ke belakang. Kesombonganmu bukan cuma kondisi emosional lagi, namun sudah menjadi kondisi tubuh. Kesombonganmu telah menjadi sesuatu yang sangat kasat mata. Tapi, aku tidak suka laki-laki yang hina dan menundukkan kepalanya, meskipun itu demi aku. Aku tidak menginginkanmu sebagai orang lemah. Aku menginginkanmu sebagai orang yang kuat. Tapi, kekuatanmu itu menggandakan rasa tersiksaku, seakan-akan Allah menciptakan kamu kaum perempuan untuk fana dan kaum laki-laki saja yang kekal.
Aku bukan sedang marah ketika memintamu memberikan cinta seperti yang telah kuberikan kepadamu. Tahukah engkau peribahasa yang tepat dengan kondisiku, "aku harus menjadi pengemis cinta". Aku tidak ragu-ragu untuk menjadi pengemis cinta jika itu menyenangkanmu. Aku tahu, para biksu memakai pakaian para pengemis dan mengadahkan tangan kepada orang lain. Mengapa? Mereka merekayasa agar orang lain mendapatkan pahala dari Allah. Aku pun telah merekayasa untuk mendapatkan ridhamu. Aku marah padamu, ruku di hadapanmu, menadahkan tangan di depanmu, dan meletakkan hatiku di telapak kakimu. Aku biksu di kuil cintamu. Kutinggalkan dunia untuk memikirkan dirimu. Kumuntahkan makanan yang memenuhi mulut dan lambungku, lalu khusyu dengan gambaran wajahmu yang memenuhi khayalan dan hatiku. Semua itu demi dirimu. Aku mencari-cari dirimu, tapi tak pernah mendapatkannya. Aku seperti orang yang melemparkan jala di pantai yang penuh debu dan batu karang. Sungguh, seakan-akan debu dan batu karang itu akal dan hatimu.
Lalu, aku merasakan sesuatu yang sangat aneh dan menyakiti hatiku. Aku merasa seakan-akan cinta adalah "topi penghilang" seorang pesulap. Setiap kali kukenakan topi itu, aku lenyap dari pandanganmu, hilang dari pendengaranmu, dan menjadi bayangan yang tak tersentuh oleh jari-jarimu. Aku merasa bahwa diriku adalah seorang pencuri yang berharap dapat membuka brankas hatimu, lalu meletakkan diriku di dalamnya dengan cara kekerasan. Kurasa aku telah berharap dapat melihat dirimu walau dengan menggunakan kekerasan. Aku tidak menyukai rasa itu. Aku tidak mau mendapatkan cintamu dengan cara mencuri. Sebab, aku membayangkan bahwa cinta adalah lampu yang diceritakan kepada kita oleh Kisah Seribu Satu Malam. Cinta adalah lampu "Aladin" yang menerangi jalan bagi manusia menuju harta karun. Hartaku hanyalah hatimu. Lalu, dimana lampu itu? Tak kutemukan lampu untuk melihat hatimu. Kekasihku, hatimulah lampu aladinku. Hatimulah yang menerangi dunia dari awal hingga akhirnya. Engkau adalah awal duniaku dan engkau jugalah akhirnya.
Aku juga mengetahui hal lain: yang kutawarkan kepadamu sangatlah konservatif, padahal kita sekarang hidup di era kebebasan. Semua orang sekarang menuntut hidup di era kebebasan. Semua orang sekarang menuntut kebebasan dari penjajahan dan dari tirani asing. Tapi aku tidak, aku tidak meminta kebebasan darimu. Aku memintamu membelengguku dan menjajah perasaanku. Aku meminta perlindungan dan pengawasanmu. Aku memintamu memasukkanku ke dalam wilayah kekuasaanmu, bersama anjing, kendaraan, dan keluarga milikmu. Aku sama sekali tidak terkejut saat engkau menolak permintaan konservatifku itu, sebab engkau adalah anak zaman ini, anak generasi baru. Aku gunakan kesempatan ini untuk mengucapkan selamat ulang tahun untukmu yang ke-dua puluh lima. Maafkan aku tidak kubiasakan selama tujuh tahun ini. Engkau tahu itu, tapi tidak mengapa kukatakan sekarang: mencium tanganmu. Sekarang aku mengkhayalkan tanganmu dan menciumnya sekali lagi, sebab segala sesuatu akan menjadi khayalan mulai hari ini.
Hingga tiba hari kemarin!!!
Titik-titik itu kubuat pada suatu hari, lalu aku berhenti menulis surat ini dan hari ini kuteruskan dan akan kuselesaikan. Kemarin aku memintamu untuk secara terus terang menyatakan engkau mencintaiku atau tidak. Ah, andai saja itu tidak kulakukan. Lalu, jawabanmu sangat jelas: engkau tidak mencintaiku!
Jawabanmu adalah pisau yang merobek-robek hatiku, merobek-robek diriku, merobek-robek dunia di sekitarku semuanya, atau merobek-robek tanah tempat kakiku berpijak sehingga aku pun terjatuh ke lubang yang sangat besar dan sangat dalam. Sekarang aku sadar bahwa lubang itu adalah kuburan cintaku. Aku tidak membenci keterusteranganmu, meskipun aku telah terus-menerus mendorongmu untuk berdusta. Tapi, jawabanmu itu seperti vonis hukuman mati dan engkau mengucapkannya sesederhana mufti negara mengeluarkan fatwa, atau sesederhana engkau menyampaikan keputusan mutasi seorang pegawai dari Kairo ke Alexandria. Dulu aku pegawai pada pemerintahanmu, dan tugasku adalah mencintaimu. Aku kini telah dimutasi dari dunia ke akhirat. Sebenarnya keputusanmu itu bukan permutasian, melainkan pemecatan diriku dari duniamu dan dari siksaanmu.
Aku belum berhenti berharap. Dari waktu ke waktu aku mengharapkanmu mengeluarkan keputusan bahwa aku tidak bersalah. Aku berharap tali gantungan itu terputus dan engkau sendiri yang memutuskannya, sebab engkaulah yang memegangnya. Engkau dapat meletakkannya di leherku atau di kakiku, atau menjadikannya kalung berhias bunga mawar dan melati.
Hasilnya, aku kehilangan segalanya. Aku kehilangan perasaanku. Aku tidak mampu lagi merasa terluka atau bahagia. Apakah engkau mengetahui seseorang yang terbentur tembok dengan sangat keras? Orang itu pasti sangat pusing dan hilang kesadaran. Aku telah terbentur tembok. Terbentur dirimu. Kepala, hati, dan akalku terbentur. Tahukah kau orang yang mempunyai uang satu milyar, lalu dikejutkan oleh kebakaran yang meludeskan uangnya? Seandainya saja api yang meludeskan uangnya, tapi air eslah yang menenggelamkan semua uangnya itu. Orang itu pasti benar-benar hilang kesadaran. Tidak dapat merasa berduka atau bersedih. Aku sekarang tidak memiliki perasaan, tapi aku tidak mencintaimu.
Kelanjutan cerita ini berlangsung sangat cepat dan sama sekali tidak penting bagimu. Aku ceritakan kepadamu peristiwa-peristiwa yang terjadi itu dalam dua kalimat, "ayahku meminta agar aku bersedia menikah dengan sepupuku. Aku tidak menerima atau menolak, sebab aku sudah mati!".
Lalu, ayahku berkata, "Selamat!"
Orang-orang masih mengulang-ulang kalimat itu, kalimat yang tidak bermakna itu, seperti segala sesuatu yang lain yang tidak bermakna, bahkan dirimu! Aku merasa lega saat aku setuju menikah. Pernikahan yang aneh. Mereka mengikat janjiku, padahal aku sudah mati, padahal aku sedang berbaring di ranjang kematian, bahkan aku sudah berbaring di dalam kuburan. Ayahku sangat bahagia. Suamiku juga. Dia menyangka diriku menjadi sumber kebahagiaan. Aku sumber kebahagiaan? Ya, aku orang yang sengsara dan terlantar, menjadi sumber kebahagiaan bagi orang-orang lain!
Berita terbaik yang kubaca minggu ini adalah yang dimuat oleh korang-koran Prancis tentang pemerintah Prancis yang menyetujui pernikahan seratus gadis dengan seratus prajurit yang telah gugur dalam perang. Pemerintah itu menyetujui pernikahan gadis-gadis yang masih hidup dengan prajurit yang sudah mati, mengapa? Supaya para gadis itu mendapatkan jatah pensiun para prajurit yang gugur setelah berjanji akan menikahi mereka.
Sementara aku, aku hidup bersamamu tanpa janji, tanpa kata, tanpa makna apa-apa. Akulah yang telah memberikan makna untuk kata-kata yanag tidak kau ketahui. Ini kabar terakhirku: semuanya tidak bermakna. Kabar ini tidak bermakna. Aku tidak bermakna. Dan, engkau pun tidak bermakna. Kuucapkan salam untukmu jika ucapan salam masih punya tempat dalam hidupku atau hidupmu. Sebelum aku membubuhkan titik terakhir dalm surat ini, kulepaskan "topi penghilang" dari hidupku seluruhnya.
Sebab,
"Aku sudah lelah.
Dan aku sudah benar-benar lelah.
Hingga aku tidak merasakan perasaan lelah!"
***
Dari buku: "Ya Man Kunta Habibie" (Untuk Bekas Kekasihku) karya Anis Mansur. Diterjemahkan oleh: Taufiq Munir Religiusta.
Dengan surat ini berakhirlah kisah cinta yang pahit. Berakhirlah tujuh tahun dari umurku. Tahun-tahun yang panjang membentang, berisi keganasan samudera, kesunyian sahara, dan cinta dari satu arah, yaitu dari arahku saja. Pada tahun-tahun itu aku seperti seorang nelayan, yang naik sebuah biduk kecil, turun ke tengah lautan pada hari mendung dan penuh badai. Nelayan itu hanya mengenakan selembar baju yang sobek dan compang-camping. Baju itu adalah cintaku kepadamu.
Diammu adalah gunting yang merobek-robek bajuku.
Aku memakai baju itu, dan aku tidak membencimu sedikitpun. Setiap hari aku termenung di jendela untuk memburu satu hal saja, yaitu dirimu. Aku mendengarmu, tapi tidak melihatmu. Aku melihatmu, tapi tidak dapat mendapatkan hatimu. Dulu aku punya harapan dan hingga sekarangpun aku tak kehilangan harapan itu. Iblis yang diusir Allah dari surga pun masih bermimpi kembali ke sana. Iblis tidak kehilangan harapannya, sebab Allah kuasa memaafkan semua yang bersalah, keturunan iblis sekalipun. Tapi, aku bukan iblis, dan akupun bukan Allah. Itu yang membuat posisiku sulit.
Pujaanku. Kekasihku.
Engkau adalah anak kecil yang belum dewasa. Kau pikir cintaku kepadamu adalah "uang saku" yang harus kuberikan kepadamu setiap hari. Aku yang selalu memberi dan engkau yang memasukkannya ke dalam sakumu. Seringkali sakumu itu bolong sehingga cintaku jatuh berceceran di tanah. Berkali-kali aku mengumpulkannya kembali dari mulut orang-orang, dari mulut saudara-saudaramu, saudara-saudaraku, dan teman-temanku. Lalu, pada hari berikutnya aku memberikan kembali uang saku yang sangat besar itu kepadamu. Menurutku, yang kuberikan sangatlah besar, meskipun menurutmu itu sangat kecil. Engkau benar. Engkau layak mendapatkan lebih banyak daripada yang telah kuberi. Engkau layak memiliki dunia seluruhnya. Andai saja kupunya itu. Tapi, yang kupunya hanya diriku dan itu telah kuberikan kepadamu dengan suka rela.
Kemudian, aku melihat cintaku berjalan pada satu arah saja dan tidak kembali ke arahku. Hatiku seperti matahari yang berjalan dari Timur ke Barat, dan tidak kembali dari Barat ke Timur. Aku mengusahakan sesuatu yang mustahil padamu: aku berusaha mengajarkanmu kata-kata cinta untuk kauucapkan kepadaku, berusaha membuat cinta menjadi tembang di lidahmu, berusaha memaksamu berdusta dan berkata kepadaku walau hanya sekali, "Aku cinta kepadamu".
Hal itu kulakukan karena kuingin melihat wajahmu saat kau ucapkan huruf-huruf kecil yang kunanti-nanti sepanjang hidupku. Aku membayangkan seorang gadis bahagia yang kau katakan kepadanya pada suatu hari: aku cinta kepadamu. Itulah kemustahilan yang telah kuusahakan kepadamu! Bahkan, aku pernah memintamu mencintai gadis lain agar kau tahu bagaimana rasanya tersiksa seperti yang kurasa, agar kau tahu hal-hal kecil yang membahagiakan dan menyedihkanku. Aku tidak membencimu sedikitpun. Aku katakan kata-kata ini, "aku sangat mencintaimu, sekaligus kasihan kepadamu".
Aku merasa kasihan kepadamu karena engkau adalah orang bodoh yang tidak mengetahui lezatnya perasaan dan indahnya khayalan yang menjadi bunga-bunga mimpi orang-orang yang sedang dimabuk cinta. Engkau hanya memiliki indera mata, telinga, hidung, dan lidah. Ada satu indera yang tidak engkau miliki. Aku sembahyang dan berdoa untukmu agar Allah memberikanmu indera itu dan menghindarkanmu dari rasa tersiksa seperti yang kurasa, sebab aku tidak membencimu sedikitpun.
Aku pernah meminta-minta kepadamu agar mencintaiku. Cintaku kepadamu seperti air hujan yang turun dari awan dengan sendirinya, sedangkan cintamu kepadaku seperti air yang turun dari kran karena permintaan. Aku rela kau cintai atas dasar permintaanku, rela menjadi kekasihmu bukan atas dasar keinginanmu sendiri. Aku rela mendapat kehinaan itu, sebab aku tidak membayangkan engkau membenciku, engkau tidak mungkin membenciku, sebab aku bukan boneka, bukan gadis bodoh, selain itu aku pun mencintaimu. Aku menyukai beban ini demi lelaki yang kucintai. Aku seperti gadis-gadis lain yang suka merasa tersiksa demi lelaki yang kami cintai.
Aku tidak pernah kehilangan harapan. Aku percaya, hatimu seperti kamera yang akan terbuka pada suatu hari dan hanya mendapati diriku di hadapannya. Aku akan menjadi foto pertama yang tercetak di album hidupmu. Setiap kali aku membayangkan itu, aku mengerti bahwa kamera itu sudah bergerak, tapi tidak terdapat film di dalamnya. Aku tidak putus asa. Kukatakan, hatimu sedang bermain-main dengan api, dan orang yang bermain api pasti terbakar bajunya. Tidak kukatakan terbakar hatinya, sebab aku tidak berambisi hingga derajat itu.
Akhirnya, aku yakin bahwa aku sedang menentang kesombongan laki-laki pada dirimu. Laki-laki tak sudi terlihat lemah. Kesombongan membuatnya membayangkan bahwa cinta adalah kelemahan. Jika cinta seperti itu,m maka aku tidak suka di dalam dirimu ada cinta dan aku tidak suka melihat tanda-tanda cinta di wajahmu. Aku memang senang engkau mencemaskanku, tapi aku tidak suka engkau terlihat cemas. Aku memang berharap melihatmu mencucurkan air mata demi diriku, tapi aku membenci engkau mencucurkan air mata.
Aku menjadi putus asa saat tahu bahwa kesombonganmu telah membubung hingga menjadi sekat yang tertanam di dadamu dan mengangkat kepalamu ke belakang. Kesombonganmu bukan cuma kondisi emosional lagi, namun sudah menjadi kondisi tubuh. Kesombonganmu telah menjadi sesuatu yang sangat kasat mata. Tapi, aku tidak suka laki-laki yang hina dan menundukkan kepalanya, meskipun itu demi aku. Aku tidak menginginkanmu sebagai orang lemah. Aku menginginkanmu sebagai orang yang kuat. Tapi, kekuatanmu itu menggandakan rasa tersiksaku, seakan-akan Allah menciptakan kamu kaum perempuan untuk fana dan kaum laki-laki saja yang kekal.
Aku bukan sedang marah ketika memintamu memberikan cinta seperti yang telah kuberikan kepadamu. Tahukah engkau peribahasa yang tepat dengan kondisiku, "aku harus menjadi pengemis cinta". Aku tidak ragu-ragu untuk menjadi pengemis cinta jika itu menyenangkanmu. Aku tahu, para biksu memakai pakaian para pengemis dan mengadahkan tangan kepada orang lain. Mengapa? Mereka merekayasa agar orang lain mendapatkan pahala dari Allah. Aku pun telah merekayasa untuk mendapatkan ridhamu. Aku marah padamu, ruku di hadapanmu, menadahkan tangan di depanmu, dan meletakkan hatiku di telapak kakimu. Aku biksu di kuil cintamu. Kutinggalkan dunia untuk memikirkan dirimu. Kumuntahkan makanan yang memenuhi mulut dan lambungku, lalu khusyu dengan gambaran wajahmu yang memenuhi khayalan dan hatiku. Semua itu demi dirimu. Aku mencari-cari dirimu, tapi tak pernah mendapatkannya. Aku seperti orang yang melemparkan jala di pantai yang penuh debu dan batu karang. Sungguh, seakan-akan debu dan batu karang itu akal dan hatimu.
Lalu, aku merasakan sesuatu yang sangat aneh dan menyakiti hatiku. Aku merasa seakan-akan cinta adalah "topi penghilang" seorang pesulap. Setiap kali kukenakan topi itu, aku lenyap dari pandanganmu, hilang dari pendengaranmu, dan menjadi bayangan yang tak tersentuh oleh jari-jarimu. Aku merasa bahwa diriku adalah seorang pencuri yang berharap dapat membuka brankas hatimu, lalu meletakkan diriku di dalamnya dengan cara kekerasan. Kurasa aku telah berharap dapat melihat dirimu walau dengan menggunakan kekerasan. Aku tidak menyukai rasa itu. Aku tidak mau mendapatkan cintamu dengan cara mencuri. Sebab, aku membayangkan bahwa cinta adalah lampu yang diceritakan kepada kita oleh Kisah Seribu Satu Malam. Cinta adalah lampu "Aladin" yang menerangi jalan bagi manusia menuju harta karun. Hartaku hanyalah hatimu. Lalu, dimana lampu itu? Tak kutemukan lampu untuk melihat hatimu. Kekasihku, hatimulah lampu aladinku. Hatimulah yang menerangi dunia dari awal hingga akhirnya. Engkau adalah awal duniaku dan engkau jugalah akhirnya.
Aku juga mengetahui hal lain: yang kutawarkan kepadamu sangatlah konservatif, padahal kita sekarang hidup di era kebebasan. Semua orang sekarang menuntut hidup di era kebebasan. Semua orang sekarang menuntut kebebasan dari penjajahan dan dari tirani asing. Tapi aku tidak, aku tidak meminta kebebasan darimu. Aku memintamu membelengguku dan menjajah perasaanku. Aku meminta perlindungan dan pengawasanmu. Aku memintamu memasukkanku ke dalam wilayah kekuasaanmu, bersama anjing, kendaraan, dan keluarga milikmu. Aku sama sekali tidak terkejut saat engkau menolak permintaan konservatifku itu, sebab engkau adalah anak zaman ini, anak generasi baru. Aku gunakan kesempatan ini untuk mengucapkan selamat ulang tahun untukmu yang ke-dua puluh lima. Maafkan aku tidak kubiasakan selama tujuh tahun ini. Engkau tahu itu, tapi tidak mengapa kukatakan sekarang: mencium tanganmu. Sekarang aku mengkhayalkan tanganmu dan menciumnya sekali lagi, sebab segala sesuatu akan menjadi khayalan mulai hari ini.
Hingga tiba hari kemarin!!!
Titik-titik itu kubuat pada suatu hari, lalu aku berhenti menulis surat ini dan hari ini kuteruskan dan akan kuselesaikan. Kemarin aku memintamu untuk secara terus terang menyatakan engkau mencintaiku atau tidak. Ah, andai saja itu tidak kulakukan. Lalu, jawabanmu sangat jelas: engkau tidak mencintaiku!
Jawabanmu adalah pisau yang merobek-robek hatiku, merobek-robek diriku, merobek-robek dunia di sekitarku semuanya, atau merobek-robek tanah tempat kakiku berpijak sehingga aku pun terjatuh ke lubang yang sangat besar dan sangat dalam. Sekarang aku sadar bahwa lubang itu adalah kuburan cintaku. Aku tidak membenci keterusteranganmu, meskipun aku telah terus-menerus mendorongmu untuk berdusta. Tapi, jawabanmu itu seperti vonis hukuman mati dan engkau mengucapkannya sesederhana mufti negara mengeluarkan fatwa, atau sesederhana engkau menyampaikan keputusan mutasi seorang pegawai dari Kairo ke Alexandria. Dulu aku pegawai pada pemerintahanmu, dan tugasku adalah mencintaimu. Aku kini telah dimutasi dari dunia ke akhirat. Sebenarnya keputusanmu itu bukan permutasian, melainkan pemecatan diriku dari duniamu dan dari siksaanmu.
Aku belum berhenti berharap. Dari waktu ke waktu aku mengharapkanmu mengeluarkan keputusan bahwa aku tidak bersalah. Aku berharap tali gantungan itu terputus dan engkau sendiri yang memutuskannya, sebab engkaulah yang memegangnya. Engkau dapat meletakkannya di leherku atau di kakiku, atau menjadikannya kalung berhias bunga mawar dan melati.
Hasilnya, aku kehilangan segalanya. Aku kehilangan perasaanku. Aku tidak mampu lagi merasa terluka atau bahagia. Apakah engkau mengetahui seseorang yang terbentur tembok dengan sangat keras? Orang itu pasti sangat pusing dan hilang kesadaran. Aku telah terbentur tembok. Terbentur dirimu. Kepala, hati, dan akalku terbentur. Tahukah kau orang yang mempunyai uang satu milyar, lalu dikejutkan oleh kebakaran yang meludeskan uangnya? Seandainya saja api yang meludeskan uangnya, tapi air eslah yang menenggelamkan semua uangnya itu. Orang itu pasti benar-benar hilang kesadaran. Tidak dapat merasa berduka atau bersedih. Aku sekarang tidak memiliki perasaan, tapi aku tidak mencintaimu.
Kelanjutan cerita ini berlangsung sangat cepat dan sama sekali tidak penting bagimu. Aku ceritakan kepadamu peristiwa-peristiwa yang terjadi itu dalam dua kalimat, "ayahku meminta agar aku bersedia menikah dengan sepupuku. Aku tidak menerima atau menolak, sebab aku sudah mati!".
Lalu, ayahku berkata, "Selamat!"
Orang-orang masih mengulang-ulang kalimat itu, kalimat yang tidak bermakna itu, seperti segala sesuatu yang lain yang tidak bermakna, bahkan dirimu! Aku merasa lega saat aku setuju menikah. Pernikahan yang aneh. Mereka mengikat janjiku, padahal aku sudah mati, padahal aku sedang berbaring di ranjang kematian, bahkan aku sudah berbaring di dalam kuburan. Ayahku sangat bahagia. Suamiku juga. Dia menyangka diriku menjadi sumber kebahagiaan. Aku sumber kebahagiaan? Ya, aku orang yang sengsara dan terlantar, menjadi sumber kebahagiaan bagi orang-orang lain!
Berita terbaik yang kubaca minggu ini adalah yang dimuat oleh korang-koran Prancis tentang pemerintah Prancis yang menyetujui pernikahan seratus gadis dengan seratus prajurit yang telah gugur dalam perang. Pemerintah itu menyetujui pernikahan gadis-gadis yang masih hidup dengan prajurit yang sudah mati, mengapa? Supaya para gadis itu mendapatkan jatah pensiun para prajurit yang gugur setelah berjanji akan menikahi mereka.
Sementara aku, aku hidup bersamamu tanpa janji, tanpa kata, tanpa makna apa-apa. Akulah yang telah memberikan makna untuk kata-kata yanag tidak kau ketahui. Ini kabar terakhirku: semuanya tidak bermakna. Kabar ini tidak bermakna. Aku tidak bermakna. Dan, engkau pun tidak bermakna. Kuucapkan salam untukmu jika ucapan salam masih punya tempat dalam hidupku atau hidupmu. Sebelum aku membubuhkan titik terakhir dalm surat ini, kulepaskan "topi penghilang" dari hidupku seluruhnya.
Sebab,
"Aku sudah lelah.
Dan aku sudah benar-benar lelah.
Hingga aku tidak merasakan perasaan lelah!"
***
Dari buku: "Ya Man Kunta Habibie" (Untuk Bekas Kekasihku) karya Anis Mansur. Diterjemahkan oleh: Taufiq Munir Religiusta.
Langganan:
Postingan (Atom)